Kamis, 11 April 2013

PENINGGALAN BERSEJARAH DI JATINANGOR



PENINGGALAN BERSEJARAH DI JATINANGOR

Dalam perjalanan memasuki kampus Universitas Padjadjaran (Unpad) Jatinangor, mahasiswa yang menggunakan kendaraan pribadi melewati jalan menanjak yang berawal dari pangkalan bis DAMRI hingga pintu masuk Unpad sebelah Utara.
Dalam perjalanan tersebut, para mahasiswa melewati kampus ITB, dulu Universitas Winaya Mukti (Unwim), pintu masuk lapangan golf Bandung Giri Gahana, serta jalan menuju Bumi Perkemahan Kiara Payung. Umumnya, mereka melewati jalan itu tanpa memperhatikan sisi jalan. Tanpa disadari, ternyata di kawasan itu terdapat sebuah situs bersejarah.
Di sisi kiri jalan, tepatnya dalam kawasan milik Unwim (sekarang ITB), terdapat sebuah menara berwarna putih bergaya neo gothic. Pada menara tua dan tidak terurus itu, terdapat tumbuhan liar yang memenuhi. Berbagai coretan pun mengotori tembok putihnya.
Menara apakah itu? Kebanyakan orang yang melewati tidak mengetahui apa pun mengenai menara ini, bahkan menyadari keberadaannya pun tidak.
Sulit untuk mengetahu nama pasti menara ini. Ada yang menyebutnya Menara Jam. Beberapa pihak menyebutnya sebagai Menara Baron Baud, sesuai dengan nama pemiliknya. Akan tetapi, masyarakat sekitar menamai bangunan putih itu, Menara Loji.
Menurut artikel mengenai Jatinangor di situs Wikipedia, Menara Loji termasuk ke dalam objek penting di kawasan pendidikan ini. Menara yang dibangun pada tahun 1800 ini dianggap penting sebab merupakan bukti sejarah masa pendudukan Belanda di Jatinangor.
Membaca Sejarah Jatinangor melalui Menara Loji
Pada masa penjajahan, Jatinangor adalah areal perkebunan pohon karet. Pemilik perkebunan karet tersebut adalah seorang pria berkebangsaan Jerman, bernama Baron Baud. Ia bersama perusahaan swasta milik Belanda, pada tahun 1841, mendirikan perkebunan karet yang luasnya mencapai 962 hektar. Perkebunan ini membentang dari tanah IPDN hingga Gunung Manglayang.
Untuk mengontrol perkebunannya yang luas, Baron Baud membangun sebuah menara. Menara ini dilengkapi dengan sebuah lonceng yang terletak di puncak menara dan tangga untuk sampai ke puncaknya.
Menara Loji memiliki dua fungsi utama. Pertama, untuk mengawasi para penyadap karet yang ia pekerjakan. Kedua, sebagai penanda waktu kerja para penyadap karet. Pada pukul 05.00, lonceng dibunyikan, tanda bagi pekerja untuk mulai menyadap karet.
Lonceng kembali berbunyi pada pukul 10.00, sudah saatnya bagi pekerja untuk mengambil mangkuk-mangkuk yang telah terisi getah karet. Terakhir, lonceng dibunyikan lagi pada pukul 14.00, para pekerja diperbolehkan pulang.
Memasuki masa kemerdekaan Indonesia, tanah perkebunan karet Jatinangor dinasionalisasikan, dan menjadi milik Pemerintah Daerah (Pemda) Sumedang. Sayangnya, Pemda tidak melakukan penjagaan yang baik terhadap situs ini. Pada tahun 1980, lonceng Menara Loji dicuri. Hingga kini, kasus pencurian ini belum terselesaikan.
Pada tahun 1990, area perkebunan dialihfungsikan menjadi kawasan pendidikan dengan dibangunnya empat perguruan tinggi, yakni IPDN (Institut Pendidikan Dalam Negeri), Ikopin (Institut Koperasi Indonesia), Unpad, dan Unwim
Lahan kosong dekat Menara Loji, tempat dibangunnya Universitas Winaya Mukti.
Foto diambil pada tahun 1990 (dok. Universitas Winaya Mukti)
Sayangnya, perkembangan pesat yang dialami Jatinangor tidak diiringi dengan perhatian terhadap situs sejarahnya. Jangankan dipelihara, diketahui saja tidak.
Ketika ditemui di kantornya (23/1), Kepala Seksi Infrastruktur Kecamatan Jatinangor Dra. Iwan Hermawan mengaku tidak tahu menahu mengenai keberadaan menara bersejarah tersebut. Ketika ia tanyakan kepada pegawai kecamatan lainnya, hasilnya pun nihil.
“Saya kurang tahu mengenai Menara Loji, saya baru setahun disini”
Dra. Iwan Hermawan
Kepala Seksi Infrastruktur Kecamatan Jatinangor

Mungkin yang paling mengetahui adalah warga Jatinangor yang sudah lama di Jatinangor. Salah satunya adalah Dra. Dewi Rupiani, Kepala Bagian Verifikasi Biro Keuangan Universitas Winaya Mukti.
Kenangan di Menara Loji



Saat ditemui, ia menceritakan sepenggal pengalaman hidupnya. Saat ia menimba ilmu di SMAN 1 Sumedang pada tahun 1987, ia sempat bermain-main di sekitar Menara Loji. Bersama guru dan teman-temannya, ia membentangkan tambang dari puncak Menara Loji hingga ke permukaan tanah. Kemudian, sambil berpegangan pada seutas tali tambang, ia meluncur dari puncak menara menuju ke daratan rendah.
“Kalau dulu sih bermainnya masih sangat sederhana. Hanya pakai tali tambang yang diikatkan ke Menara Loji. Kini, banyak orang menyebut permainan ini flying fox” ujar Dra. Dewi Rupiani
Sayangnya, apabila Dewi mengunjungi Menara Loji lagi, ia tidak akan menemukan keadaan yang sama seperti saat ia remaja. Pintu menuju puncak menara ditemboki sehingga menara tidak bisa lagi dinaiki. Alasannya, tangga menuju puncak menara telah rapuh sehingga ditakutkan apabila ada yang menaikinya akan terjatuh.
Dalam beberapa tahun mendatang, keadaan sekeliling Menara Loji pun akan berbeda. Berdasarkan keterangan dari pihak Unwim, di area dekat menara akan dibangun gedung Palang Merah Indonesia (PMI). Konsekuensi yang akan dihadapi oleh Menara Loji berkaitan dengan pembangunan gedung PMI belum dapat dipastikan.
Menara Loji adalah aset bersejarah yang bermanfaat. Menara putih ini menjadi bukti nyata tentang keberadaan perkebunan karet luas di Jatinangor pada masa penjajahan Belanda.
Menara Loji tidak dapat meninggalkan catatan sejarah apa pun apabila tetap dibiarkan terbengkalai. Bagi orang-orang yang melewatinya, ia hanyalah bangunan tua tak bertuan. Nasib menyedihkan ini mungkin juga diderita oleh banyak situs bersejarah yang tersebar di seluruh Indonesia.
Sebagai bangsa yang besar, patutnya masyarakat Indonesia menghargai sejarahnya. Hargailah bukti sejarah sehingga sejarah bangsa takkan lekang dimakan waktu. Sebab, melalui sejarahlah kita dapat memperbaiki diri.

2 komentar:

lia yulianty mengatakan...

foto menara lojinya mana?pengen lihat donk ;)

padjadjaran blog mengatakan...

terima kasih sudah kami tambahkan foto menara loji

Poskan Komentar

Blogroll